Kamis, 05 Februari 2009

TAFSIR EF 2:1-10

PERALIHAN HIDUP DAN KEUTUHAN HIDUP
DALAM KRISTUS
EF 2:1-10

By. Antonius Agus Sumaryono

I. Pengantar
Dalam Efesus ini gambaran yang dibawa adalah mengenai Gereja Universal. Bab dua ini dibagi dalam dua perikop. Bab 2:1-10 berisi tentang peralihan hidup dari kehidupan lama kepada kehidupan baru dalam Kristus, sedangkan bab 2:11-22 berisi tentang keutuhan hidup dalam jemaat.

II. Analisa Teks 2:1-10
Kamu dahulu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu (ayat 1). Penulis Efesus pertama-tama ingin mengingatkan pembacanya bahwa mereka sekarang hidup dalam kegembiraan kristen dan memperoleh hak istimewa dari hidup kristen. Mereka diingatkan apa yang telah dirasakan sebelum menjadi kristen. Sekarang, mereka digambarkan bahwa hidup lama sebagai satu tindakan dari kematian. Mereka telah mati karena kesalahan dan dosa (traspasses, paraptõma) dan (sin, hamartia). Konsekwensi dari dosa adalah mati yang mana hidup manusia mengarah kepada sesuatu yang dapat disebut “mati”[1].
Kematian adalah satu gambaran yang tepat dari akibat dosa. Menurut Paulus tiap-tiap orang berdosa adalah orang “mati”, karena hubungannya dengan Allah telah dirusak.[2] Kata kematian dipakai sebagai kiasan dari perubahan hidup rohani dan moral. Paulus ingin menghidupkan kembali dari kematian atau disebut sebagai peralihan (transformed). Peralihan dari mati ke hidup yang dihasilkan dalam kehidupan mereka telah disempurnakan oleh karena Kristus. Hidup adalah kekayaan kesadaran baru dari kebaikan dan semua itu memperoleh kepenuhannya dalam Kristus.
Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka (ayat 2). Kesalahan dan dosa digambarkan sebagai suatu peristiwa yang berjalan dalam dunia. Maksud dari ayat ini ditujukan kepada orang non Yahudi, yang mana mereka masih percaya pada dewa penguasa lain (penguasa dunia). Dewa bangsa Yunani yang mereka sebut aiõn digambarkan sebagai seorang penguasa kekuasaan udara. Kata udara ini digunakan untuk mengindikasi ruang antara bumi dimana manusia tidak patuh dan berdosa dengan surga di mana Tuhan berkuasa dengan otoritas yang tidak diragukan. Dalam zaman kuno, udara sebagai kekuasaan dari bermacam-macam roh, diantaranya roh iblis. Aiõn ini berupa roh yang bekerja di dunia dalam anak yang tidak patuh, sedangkan dalam tradisi Yahudi anak yang tidak patuh diungkapkan dengan arti orang yang tidak patuh kepada Tuhan.
Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain (ayat 3). Arti dari ayat ini mempunyai karakteristik bahwa mereka hidup dalam penderitaan daging, karena mereka hidup di dalamnya. Mereka dipaksa hidup seperti sebelum kekristenan, artinya hidup dalam ketidakpatuhan. Kadangkala dalam Perjanjian Baru khususnya tulisan Paulus, kata daging digunakan dalam satu cara alami yang diartikan dalam aspek fisik dari kodrat manusia. Paulus menuliskan itu untuk menggambarkan dasar hukum kodrat yang mana dengan mudah menentang hukum Tuhan dan bersekutu dengan setan. Di sini, penulis Efesus berkeinginan untuk menegaskan bahwa dosa-dosa nafsu daging telah merasuk ke dalam tubuh dan pikiran.
Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita (ayat 4). Di sini, Allah digambarkan dengan dua sifat yakni kaya belaskasihan dan penuh cinta. Rahmat merupakan satu kata yang beberapa kali dipakai oleh penulis Efesus untuk menggambarkan keramahan Tuhan kepada siapa saja yang pantas menerimanya. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Maha Kasih dan kaya rahmat. Penekanan penulis Efesus ini yakni bagaimana kebesaran Allah yang kaya rahmat itu sangat mencintai manusia sebagai orang yang berdosa. Oleh karena itu, manusia memperoleh rahmat yang melimpah karena Allah sebagai sumber segala rahmat dan kasih mau mengampuni kita, orang-orang yang berdosa.
Telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan dan di dalam Kristus Yesus, Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga (ayat 5-6). Di sini Allah menunjukkan kebesaranNya dengan menghidupkan Kristus yang mati karena kesalahan-kesalahan kita. Rahasia keselamatan Allah melalui Kristus adalah wujud dari kasih Allah seperti yang telah ditulis dalam ayat sebelumnya. Allah telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. Kristus telah dihidupkan oleh Allah supaya Ia ditinggikan begitu pula dengan kita. Hidup baru adalah keselamatan atas dasar rahmat. Tuhan menghidupkan kita bersama dengan Kristus yang bangkit dengan kita dan mendudukkan kita dalam Kerajaan Surga. Kata “made to sit” sulit untuk ditafsirkan karena kata ini dalam bentuk lampau. Kata yang serupa dalam Injil memakai bentuk akan datang (Luk 22:30; Mat 19:29). Yakobus dan Yohanes meminta untuk duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus bila Ia datang sebagai Raja. Hak duduk dalam Kerajaan Surga merupakan hak khusus hanya untuk Tuhan, tetapi semua itu dijanjikan kepada kita yang percaya kepadaNya.
Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus (ayat 7). Banyak ahli menuntut bahwa dalam konteks ini masa yang akan datang harus diartikan salah satu kehidupan setelah mati, atau dimulai ketika masa sekarang berakhir dengan kedatangan kedua Kristus. Kedatangan kedua Kristus sebagai pembuka dalam masa yang akan datang. Paulus melihat wajah Gereja sebagai satu kelanjutan tugas di atas dunia. Hal ini adalah bagian penting dari penulis bahwa penulis tidak hanya menghadirkan kembali esensi pengajaran dari Paulus tetapi dimana format pengajaran ini tidak lagi dapat digunakan untuk merubah waktu, penulis hanya menafsikan ulang atas teks ini.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (ayat 8-10). Tiga ayat ini adalah satu kesimpulan yang mengilhami dari teologi Paulus. Keistimewaan utama dalam ayat ini adalah keselamatan, Allah mempunyai bagian dalam keselamatan manusia. Dalam Efesus, keselamatan termasuk satu kata yang mencakup banyak makna Paulus mengartikannya dalam beberapa pernyataan antara lain sebagai pembenaran, pendamaian, pengangkatan dan lain-lain. Demikian juga apa yang Paulus katakan tentang pembenaran dalam Roma. Penulis mengatakan tentang keselamatan sebagai berkat karunia iman, kita diselamatkan.
Keselamatan bukan semata-mata hasil usaha kita tetapi suatu pemberian dari Allah. Itu semua dikerjakan oleh Allah, Allah memberi dari permulaan sampai pada akhir. Oleh karena itu orang diharapkan untuk tidak memegahkan diri sendiri karena semuanya itu adalah pekerjaan Allah. Penegasan atas keselamatan dalam hal ini adalah hidup dalam iman yang diciptakan oleh Kristus Yesus. Banyak komentator mempunyai pendapat bahwa kata pemberian di sini diartikan untuk menggambarkan iman membawa kepada keselamatan.
Penulis menegaskan kembali bahwa segala sesuatu tentang keselamatan ini adalah sebagai pemberian Allah. Kita tidak selamat oleh pekerjaan kita sendiri tetapi kita diselamatkan karena pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang baik digambarkan sebagai tindakan yang mana Allah telah mempersiapkan sebelumnya, bahwa kita akan berjalan dalam pekerjaan Allah.

III. Analisa Teks 2:11-22
Perikop kedua (2:11-22) terbagi dalam tiga bagian yaitu:
1. Situasi sebelum Kristus - keterpisahan dan perseteruan (2:11-12)
2. Perdamaian oleh darah Kristus (2:13-18)
3. Persatuan dalam jemaat (2:19-22)
1. Situasi sebelum Kristus – keterpisahan dan perseteruan
Dalam perikop ini Rasul Paulus mengawali frase ini dengan kata” karena itu”, untuk menyatukan perikop sebelumnya di mana para pendengarnya sebagai seorang Kristen telah menerima dan mengalami segala kebaikan Allah, seperti telah tertulis dalam Ef. 1:3 - 2:10. Rasul Paulus juga mengajak pendengarnya untuk mengingat kembali akan keadaan mereka di masa lampau, ketika mereka belum menjadi warga Keluarga Allah. Hal ini dikatakan oleh Paulus untuk mengajak mereka mensyukuri akan segala Kasih Allah yang saat ini mereka rasakan. Ada dua situasi yang menggambarkan hidup mereka di masa silam, yang kini semua itu telah diperdamaikan oleh Kristus. Dua situasi itu adalah: a). Relasi mereka dengan orang-orang Yahudi yang menyebut mereka “orang-orang tak bersunat” (2:11), yang membawa mereka kepada jurang keterpisahan dan perseteruan. b). Bahwa hidup mereka tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel, tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, hidup tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia (2:12).
a) Sunat menurut orang Yahudi adalah tanda istimewa, tanda perjanjian Allah dengan umatNya, tanda yang menjadikan mereka umat Allah dan milik Allah. Menurut orang Yahudi hanya mereka sajalah umat Allah itu (karena tanda sunat yang mereka lakukan), sedangkan orang-orang tak bersunat bukan termasuk umat Allah. Oleh karena itulah Orang Yahudi memandang rendah mereka yang tidak bersunat. Sebutan “tak bersunat” itulah yang membuat mereka terpisah dengan orang Yahudi dan terjadi perseteruan di antara mereka. Akan tetapi Paulus mengkritik tanda sunat yang menjadi kebanggaan Orang Yahudi itu, dengan menegaskan bahwa semua itu hanyalah tanda lahiriah belaka yang dikerjakan oleh tangan manusia. Bahkan dalam suratnya kepada jemaat lain, Paulus dengan tegas menyatakan bahwa sunat yang sejati bukanlah yang bersifat lahiriah dan jasmani, tetapi sunat yang secara rohani yaitu sunat di dalam hati. (Rm.2:28). Dalam Flp. 3:3 Paulus meneguhkan iman orang-orang Kristen, baik Yahudi maupun non Yahudi bahwa merekalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah”.
b) Situasi kedua yang telah diubah oleh Kristus adalah hidup mereka di dunia ini. Sebelumnya hidup mereka digambarkan sebagai hidup tanpa Kristus, yang artinya bahwa mereka tidak memiliki siapapun untuk bergantung. Karena mereka bukan orang Yahudi, mereka bukan termasuk orang yang bersunat, sehingga dengan demikian mereka tidak mendapatkan bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan. Hidup mereka dikatakan juga tanpa harapan dan tanpa Allah. Harapan dalam arti hidup sesudah kematian (tanpa masa depan), sebab bagi mereka yang tidak mengenal kebangkitan, kematian merupakan suatu keputus-asaan. Hidup tanpa Allah di dunia ini artinya bahwa mereka hidup tanpa iman akan Allah yang menopang hidup mereka seperti sekarang ini.
Semenjak mereka menjadi Kristen, hidup mereka diperdamaikan dari situasi permusuhan dan dari situasi kesendirian yang tanpa harapan. Mereka dibebaskan dari segala situasi yang tidak memberi janji yang pasti.

2. Perdamaian oleh Darah Kristus. (2:13-18)
Tetapi situasi yang dahulu itu sekarang tidak ada lagi. Mereka sekarang hidup dalam situasi yang lain, suatu situasi yang sama sekali baru, yakni suatu situasi hidup “di dalam Kristus Yesus”. Dialah yang menciptakan perubahan situasi itu. Oleh Dia atau lebih tepatnya oleh darah-Nya, mereka yang dahulu jauh sudah menjadi dekat. Yang dimaksud dengan oleh darahNya adalah lewat kematian-Nya di salib.
Oleh Paulus, Yesus disebut sebagai “Damai sejahtera” (2:14), karena Ia telah menjadi pendamai manusia, damai dengan Allah dan damai dengan sesama kristen apapun suku bangsanya. Tembok perseteruan antara dua bangsa telah dirubuhkanNya. Tembok pemisah dalam arti metafor yakni suatu pola pikir dan penafsiran yang salah, yang membawa dua suku bangsa hidup dalam permusuhan, saling curiga dan membenci satu sama lain, khususnya antara Yahudi dan orang-orang kafir. Permusuhan inilah yang telah dilebur oleh Kristus, sehingga sekarang antara Yahudi dan orang kafir bersatu dalam persahabatan yang luar biasa. Melalui kamatianNya, Kristus juga telah membatalkan hukum taurat dengan perintah-perintah dan peraturannya sebagai hal yang menentukan. Tujuan dari melakukan itu adalah untuk menciptakan ciptaan baru dalam diriNya dari dua kelompok, Yahudi dan bangsa lain (2:15). Dengan cara demikian, malalui salib, Ia mendamaikan keduanya kepada Allah dalam satu tubuh, dengan menghilangkan permusuhan diantara mereka (2:16). Tubuh yang satu ini merupakan sebuah istilah yang menunjuk baik kepada tubuh jasmani Kristus yang dibunuh, dan kepada tubuhNya, Gereja yang terdiri dari bangsa Yahudi dan bangsa lain. Maka dari itu, dengan kedatanganNya dan dengan tindakanNya, Ia memaklumkan kedamaian baik kepada bangsa Yahudi yang dekat dan bangsa lain yang berada jauh (2:17). Akibatnya, keduanya dapat mendekati Bapa dalam satu Roh (2:18).

3. Persatuan dalam Jemaat (2:19-22)
Ketika umat Allah hanya terdiri dari orang-orang Israel, orang kafir tidak termasuk di dalamnya. Mereka disebut sebagai orang asing. Akan tetapi sekarang, umat Allah itu adalah komunitas umat Kristiani yang baru, di mana orang Kristen kafir juga termasuk di dalamnya. Sejak dipersatukan oleh Kristus Yesus mereka bukan lagi orang asing melainkan kawan sewarga dengan orang-orang kudus dan menjadi anggota Keluarga Allah (2:19). Keluarga Allah itu dibangun atas dasar para rasul dan para nabi dan Kristus Yesus adalah batu penjurunya. Para Rasul di sini tidak terbatas pada kedua belas rasul Yesus, karena Paulus yang tidak termasuk kelompok ini tetap sebagai rasul. Para nabi tidak menunjuk pada tokoh-tokoh Perjanjian lama melainkan kepada sekelompok orang Kristen tertentu yang pelayanannya masih dinyatakan dalam karya-karya Kristen lama sesudah semua rasul meninggal. Kristus Yesus disebut sebagai batu penjuru GerejaNya. Arti dari kata Yunani akrogoniaios yang diterjemahkan sebagai batu penjuru ini telah menjadi bahan perdebatan yang serius. Kata batu penjuru ini terdapat hanya sekali dalam Septuaginta yaitu dalam Yes. 28:16, dan di situ kata itu memiliki arti yang jelas yaitu suatu batu yang menempati tempat yang penting dalam pondasi bangunan. Akan tetapi lepas dari arti itu, setiap ahli mengambil kata itu untuk arti yang berbeda-beda menurut bidang mereka masing-masing. Ada yang mengartikan bahwa batu penjuru itu adalah batu yang memahkotai suatu bangunan (menurut Jeremias), ada pula yang mengartikan sebagai batu yang berada di puncak pyramid atau tugu, yang diletakkan paling akhir, sebagai pengunci dari keseluruhan struktur bangunan. (dalam leksikon Patristik Yunani). Bagaimanapun juga, batu penjuru yang dimaksud dalam Efesus ini adalah batu penjuru dari suatu pondasi, dan bukan puncak dari monumen, batu terakhir yang membuat suatu bangunan sempurna.
Gereja Yesus Kristus adalah Gereja yang kuat dan langgeng (abadi), yang tetap mampu bertahan dalam lajunya waktu, jika Gereja itu tetap dibangun dalam garis yang tetap mengacu pada Kristus sebagai batu penjurunya. Gereja Kristus yang walaupun terdiri dari bermacam-macam jemaat lokal, semuanya tetap berdasar pada kebenaran melalui para rasul dan para nabi dan bersatu dalam segala hal yang mereka kerjakan dan tetap berpihak pada Yesus Kristus maka Gereja itu akan tetap tumbuh dan berkembang, menjadi suatu bangunan bait Allah yang kudus. Dalam Kristus, para pembaca bukan Yahudi ini dibangun menjadi kenisah yang kudus juga, tempat Allah bersemayam.










DAFTAR PUSTAKA

Sumber Utama
Mitton, C. Leslie, The New Century Bible Commentary Ephesian, London:, 1976.
Sumber pendukung
Abbott, T.K, A Critical and Exegetical Commentary on Epistles to the Ephesians and to the Colossians, Edinburgh: International Critical Commentary, 1897.
Abineno, J.L.CH., Dr., Tafsiran Alkitab – Surat efesus, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982.
Barclay, William, Pemahaman Alkitab setiap Hari: Surat-surat Galatia dan Efesus, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
Bergant, Dianne, CSA., dan Robert J. Karris, OFM. (eds), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2005.
Bruce, Frederick Fyvie, The Epistle to The Ephesians, California: W.B. Eerdmans Published, 1984.
Foulkes, Francis, MA., Tyndale: The New Testament Commentaries,The Epistle of Paul to The Ephesians An Introduction and Commentary, England: Inter-Varsity Press, 1983.
Köningsmann, Josef, Dr., SVD, Tafsiran Surat kepada umat di Galatia, Surat kepada orang kudus di Efesus, Injil Markus, STFTK Ledalero, 1979.
Robinson, Joseph Armitage, St. Paul’s Epistle to The Ephesians, London: McMillan & Co,1904.

[1] Kata “mati” yang dimaksud bukan mati secara fisik tetapi mati rohani, karena latar belakang jemaat yang dituju adalah berkebudayaan Yunani, sehingga masih dipengaruhi oleh alam pemikiran Platonis yang kuat.
[2] Bdk. Dr. Josef Köningsmann, SVD, Tafsiran Surat kepada umat di Galatia, Surat kepada orang kudus di Efesus, Injil Markus, STFTK Ledalero, 1979, hlm. 88.

Sabtu, 27 September 2008

PEMBINAAN KAUM MUDA

By. Antonius Agus S

Pendahuluan
Arus globalisasi menuntut perkembangan dan pertumbuhan pelbagai aspek kehidupan masyarakat. Tanpa diimbangi dengan pendidikan nilai-nilai kebenaran dan kesadaran yang tinggi akan prinsip-prinsip norma dalam hidup, kita dapat terjerumus dalam paham-paham kehidupan yang menyesatkan, dengan aneka macam tawaran kemudahan menjalin kehidupan ini. Tawaran-tawaran ini menjadi bisa menjadi alasan bagi kita untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Akan tetapi, perjuangan untuk mencapai kebutuhan kitalah yang dipertanyakan, apakah kita masih mau bekerja keras untuk mencapainya atau hanya memanfaatkan kemudahan yang ada tanpa sebuah perjuangan? Globalisasi mempunyai aspek yang baik serta membangun sejauh kita mampu menghidupinya dengan pelbagai bentuk perjuangan hidup. Untuk itu sangat perlu bahwa setiap orang membekali (atau dibekali) diri dengan pendidikan yang pada akhirnya dapat membawa kita pada pondasi diri yang kuat. Karena arus globalisasi mempengaruhi semua aspek kehidupan, termasuk kehidupam religius, maka dlam hal ini diperlukan bukan hanya iman yang kuat melainkan dibutuhkan juga sikap keterlibatan kita. Artinya, tidak cukup kita hanya beriman tanpa terlibat dengan masalah-masalah kehidupan di sekitar kita, sebab iman itu tampak dalam perbuatan kita sehari-hari.
Kaum muda kristiani, selain sebagai generasi penerus bangsa juga menjadi harapan gereja, terutama harapan akan masa depan gereja. Namun, realita dunia yang menawarkan banyak kemudahan telah mempengaruhi kaum muda gereja. Mereka kurang melinbatkan diri dalam kehidupan gereja, tetapi lebih mengurusi kehidupan pribadinya. Selain daripada itu, faktor lingkungan tempat tinggal dan lingkunagn belajar maupun bermain juga bisa membentuk seorang pribadi kaum muda yang dewasa, maupun sebaliknya, pribadi yang tidak memiliki kematangan pesepsi dan perasaan. Untuk itulah diperlukan sikap mawas diri dan kesadaran tinggi akan masa depan gereja dari generasi muda dewasa ini. Namun, kaum muda sebagai ‘seorang anak’ membutuhkan pendampingan, supaya dalam lingkup hidupnya, baik dalam masyarakat maupun gereja, kaum muda senantiasa mampu memberikan diri seutuhnya. Kesadaran dan pendampingan serta pembinaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kesadaran tanpa pendampingan tidak berkembang karena tidak ada yang mengarahkan maupun membimbing kesadaran tersebut Maka, tema “Pentingnya pembinaan kaum muda dalam menenmkan tanggung jawab Kristianai” , mau mengajak kita sekaligus kaum muda sendiri (khususnya) untuk membuka diri bahwa mereka memiliki tanggung jawab atas kelangsungan hidup mdan masa depan gereja. Dengan tema ini, kaum muda diajak untuk mau membekali diri mereka dengan kepribadian yang dewasa dan sehat serta wawasan yang luas akan nilai-nilai kristiani, yang diperlukan untuk mencapai cirta-cita gereja di tengah masyarakat, yang notabene sarat dengan model gaya hidup dan problem kehidupan. Pertanyaan kita adalah: Bagaimana menanamkan tanggung jawab kristiani dalam diri kaum muada? Mengapa hal itu penting bagi kaum muda meupun gereja? Pertanyaan ini akan dibahas dan dijawab dlam uraian berikut.

Siapa Kaum Muda itu?
Untuk mengerti dan memahami kaum muda kita perlu mengetahui siapa yang termasuk kaum muda dan apa batasan-batasannya, sehingga kita bisa memberikan pembinaan itu sejak usia dini. Dari berbagai pendapat, yang dimaksudkan dengan kaum muda adalah orang yang berada pada rentang umur 11-25 tahun. Ada juga pendapat yang memberikan rentang waktu yang berbeda, antara umur 13-30 tahun. Biasa juga disebutkan bahwa remaja adalah orang/anak yang masih duduk antara banguku SMP sampai SMA/perguruan tinggi. Namun, definisi ini terkadang terkendala dengan kenyataan bahwa ada pernikahan usia dini, yaitu remaja yang menikah diusia muda mereka (antara 17-20 tahun) karena alasan tertentu. Maka, untuk itu prtlu ditambahkan juga bahwa remaja adalah termasuk mereka yang belum menikah, yaitu rentang umur 13-30 tahun dan belum menikah.
Dalam hal ini gereja juga membagi dua kelompok muda gereja, yaitu rekat (remaja katolik) yang masih duduk di bangku SMP dan mudika yang berada di bangku SMA. Untuk itu perlu diklarifikasi bahwa dalam pembahasan ini yang dimaksudkan dengan kaum muda adala remqja yang masih duduk di bangku SMP sampai mereke yang sudah memasuki jenjang perguruan tinggi, dan belum menikah.

Realitas Gereja dan Kaum Muda
Realitas Gereja Katolik saat ini dan tantangan-tantangannya
Di dalam gereja katolik trdapat pelbagai macam organisasi gereja, mulai dari organisasi Biak sampai dengan organisasi kepengurusan gereja. Kelompok tersebut, masing-masing mempunyai tujuan yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja, termasuk kelompok-kelompok kepemudaan yang ada. Kelompok-kelompok ini tebentuk sebagai bagian dari hierarki gereja di mana saat ini gereja ingin melibatkan seluruh anggota gereja dalam pembangunan gereja sendiri. Namun, tidak dapat disangkal bahwa seringkali terjadi persaingan antar kelompok dalam memperoleh perhatian gereja. Di samping realitas intern gereja, ada juga realitas di luar gereja yang tidak bisa disingkirkan oleh gereja, yaitu realitas gereja dalam lingkup masyarakat umum. Gereja katolik tidak hidup secara individu melainkan secra kolektif dengan berbagai macam aliran kepercayaan dan agama-agama lain. Dalam hal ini, gereja tidak terlepas dari masalah-masalah yang menyangkut kehidupan bersama, dan gereja dituntut juga untuk ikut serta di dalamnya. Gereja dituntut untuk mampu menunjukkan jati dirinya dalam masyarakat, dalam menghadapi persoalan-persoalan yang ada. Denagn tidak melibatkan diri di masyarakat, gereja bukan lagi menjadi jalan keselamatan melainkan batu sandungan. Di sinilah kehidupan gereja dan perkembangannya seklaigus diuji, sejauhmana gereja mampu mewartakan keselmatan di dunia yang penuh dengan aneka kesulitan dan tantangan.

Realitas Kaum Muda dalam Gereja
Kaum Muda gereja adalah harapan akan masa depan gereja, di sampiung sebagai pewaris kepemimpinan dalam gereja. Namun, persolan-perosalan di dalam lingkup kaum muda seringkali membuat mereka lari dari realitas yang dihadapi. Terutama bila [problematika yang dihadapi tersebut berkaitan dengan agama. Banyak kaum muda mengeluh bahwa gereja katolik terlalu banyak memberikan peraturan, khususnya ketika mereka dipersiapkan untukmenerima sakramen dalam gereja katolik. Walaupun demikian, tidak sedikit dari kaum muda itu mau dan bersedia memberikan diri kepada pa yangf dituntut dari mereka. Berkenaan dengan maslah intern yang dihadapi kaum muda sebagai anggota gereja, kematangan kepribadian adalah faktor utama dalam mennetukan sikap bagi kaum muda.
Kedewasaan dan kemempuan menentukan pilihan bagi kaum muda tergantung dari lingkungan tempat tinggal mereka (keluarga, masyarakat), juga l;ingkungan di mana mereka bergaul dengan teman-teman sejawat (organisasi gereja, kampus/sekolah). Di tempat-tempat itulah sebuah kepribadian terbentuk, karena sedikit banyak paradigma dan pemikiran kaum muda dipengaruhi oleh lingkungan mereka. Oleh sebab itu, faktor-faktor intern dan ekstern menjadi penentu bagi kaum muda dalam mengintegrasikan kehidupan pribadi, gereja dan masyarakat, demi masa depan mereka dan masa depan gereja, juga masyarakat tempat tinggal dan masyarakat universal. Tantangan-tantangan yang seringkali muncul dan menyebabkan kaum muda terpengaruh untuk melakukannya, misalnya, gaya hidup masyarakat modern yang mengarah pada westernisasi, yaitu gaya hidup yang serba bebas dan kurang memperhatikan norma-norma budaya Tumur (cara berpakaian, cara bergaul). Budaya instan yang sudah mengakar dalam masyarakat dunia juga mempengaruhi cara pikir maupun perilaku kaum muda yang egosentris, dll.
Tantangan terbesar bagi kaum muda dalam mengembangkan kehidupan pribadinya dan sekaligus kehidupan gereja adalah kesadaran diri dan pendampingan yang dibutuhkan. Kaum muda tanpa kepribadian yang matang tidak memberikan cukup sumbangan bagi gereja, karena tanpa kesadaran diri akan potensi dalam dirinya serta kesadaran akan pertumbuhan gereja kaum muda kristiani tidak berbeda dari pemuda biasa, yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Selain itu, pendampingan pastoral kaum muda juga menjadi tantangan yang cukup serius bagi pertumbuhan kaum muda sendiri maupun gereja. Kelompok-kelompok kaum muda kristiani, yang dengan penuh kesadran membentuk dan membangun komunitas atas dasar iman dan kepentingan untuk membangun gereja, tanpa pendampingan yang seimbang dan menyeluruh pada akhirnya hanya menjadi kumpulan kaum muda kristen, tanpa orientasi yang jelas.

Perlunya Pembinaan bagi Kaum Muda
Pembinaan dan pendampingan kaum muda sangat penting mengingat bahwa kaum muda msih membutuhkannya. Belum banyak kaum muda yang secara mandiri melibatkan diri dan membangun suatu tanggung jawab tertentu. Pembinaan dan pendampingan sifatnya membantu, artinya bahwa dengan pembinaan dan pendampingan yang berdayaguna diharpakan kaum muda memiliki pribadi yang matang di tengah masyarakat dan gereja, sebab sekaligus mereka juga merupakan penghubung antara kehidupan bermasyarakat dan menggereja. Tanpa pembinaan kecil kemungkinan bahwa kaum muda dengan sendirinya mampu menemukan jati diri mereka yang seungguhnya, yang kemudian menjadi landasan bagi dirinya untuk membengun masa depan gereja. Tujuan pembinaan kaum muda adalah berkembangnya diri mereka sebagai manusia dan sebagai orang katolik Indosnesia yang tangguh, tanggap, dan terlibat dalam hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.1
Pembinaan kaum muda harus meliputi seluruh aspek kehidupannya dan harus secara menyeluruh, tidak setengah-setengah. Artinya, seluruh aspek kehidupan dalam diri kaum muda itu harus didasarkan atas iman dan kematangan kepribadiannya sebagai suatu pribadi yang utuh. Pembinaan ini sekaligus sebagai pelayanan pastoral, berlandaskan iman katolik. Berlandaskan iman katolik berarti menempatkan iman katolik sebagai pusat dan dasar, serta sumber motivasi dan inspirasi dalam seluruh karya pelayanan pastoral kaum muda. Menyangkut seluruh aspek kepribadiannya berarti menyentuh seluruh kematangan diri, yang meliputi aspek psikologis, intelektual dan spiritualnya.
Sasaran pembinaan kaum muda meliputi kepribadian yang kuat, beriman teguh dan tangguh, memiliki kepekaan dan kepedulian sosial, memiliki semangat berorganisasi yang didukung oleh jiwa kepemimpinan dan kepeloporan dan memiliki kemampuan dan kemauan untuk terlibat serta berperan dalam hidup menggereja. Untuk itu dapat dirinci beberapa bidang pembinaan yang perlu bagi kaum muda sebgai generasi penerus gereja:

Pengembangan Kepribadian
Pengembangan Kepribadian kaum muda dapat dilaksanakan melalui bidang-bidang kehidupan kaum muda yang meliputi:
Pengenalan, penemuan diri dan potensi serta kesadaran akan keterbatasannya, yang menumbuhkan kepercayaan diri dan gambaran diri yang sehat-seimbang sehingga mampu berkembang dalam daya cipta, bakat dan keterampilan.
Kesadaran diri dalam kelompok dan kehidupan ssosial sehingga mampu bergaul dan menjalin hubungan yang saling mengembangkan dalam semangat persaudaraan.
Ketangguhan fisik-mental yang terwujud dalam daya tahan, sikap sportif, semangat bersaing yang sehat dan hasrat meningkatkan prestasi2
Pembinaan kepribadian ini dapat dimulai dari lingkungan keluarga sebagai awal dari pertumbuhan seorang remaja. Kemudian, ketika masuk ke dalam masyarakat maka kaum muda membutuhkan bekal yang lebih luas dari lingkup sekolah, gereja maupun lingkungan bermainnya. Pembinaan kepribadian ini sangat menentukan bagaimana seorang pemuda nantinya menunjukkan diri di dalam amsyarakatnya dan di dalam gereja.

Pembinaan Moralitas Kaum Muda
Nilai-nilai moral sangat penting bagi kehidupan kaum muda sebagai bekal untuk hidup dalam masyarakat yang sarat dengan norma-norma dan peraturan yang ada. Maka, sebagai bagian dari masyarakat tersebut dibutuhkan suatu sikap yang mengarah pada suatu tindakan yang benar. Berbicara mengenai moralitas kaum muda berkaitan dengan keptususan moral sejati yang diambil oleh kaum muda seringkali dikacaukan oleh pengaruh masalah-masaalah penting yang sedang berkembang dewasa ini, sehingga membelenggu secara erat hidup kaum muda. Meoralitas yang sebenarnya berkaitan dengan serangkaian aturan, kebiasaan atu prinsip yang mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama, suatu perilaku yang mencerminkan keluhuran manusia.3 oleh sebab itu, sangat penting bahwa moral kaum muda sebagai harapan gereja juga terus dibina agar mereka mampu menjalankan hidup bermasyarakat untuk menyampaikan kabar gembira, dengan moralitas yang baik.
Moralitas yang baik tidak akan terwujud tanpa kesadaran akan pentingnya norma-norma yang menyangkut hukum umum dan hukum gereja (hukum kodrat). Oleh sebab itu, pentinglah memperhatikan dan memahami hukum yang berlaku dalam lingkup gereja sebagai teladan dan batu loncatan untuk hidup dalam masyarakat. Misalnya, perilaku menyimpang seksual. Seringkali hal ini dianggap sebagai hal yang sepele oleh kebanyakan kaum muda dewasa ini. Sudah hal biasa bahwa mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya di larang, baik oleh agama maupun oleh masyarakat. Di sinilah peran kesadaran hati nurani itu dituntut, yakni bahwa perilaku yang bertentangan dengan norma dan budaya Timur tersebut dapat dihindari bila kaum muda dan remaja memiliki prinsip hidup yang matang dan teguh dalam keyakinan hati nuraninya.

Pengembangan Hidup Kristiani
Selain pendidikan dan pemahaman yang jelas tentang norma hidup, kaum muda kristiani juga perlu mengembangkan kehidupan kristianinya. Pengembangan kehidupan kristiani ini perlu dibina sejak dini karena menyangkut keyakinan dan iman sampai dewasa, bahkan sampai menjelang ajalnya. Pengembangan hidup kristiani ini menuntut sikap intern kaum muda, sebagaimana dituntut pula sikap dasar dari pribadi seorang kristiani. Pengembangan hidup kristiani yang dapat diberikan sebagai bentuk dari pembinaan kaum muda adalah sebagai berikut;
Kehidupan iman yang meliputi:
Pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran iman dan keagamaan yang makin luas dan mendalam
Penyerahan diri kepada Allah, yang bersifat pribadi
Penghayatan hidup rohani dalam doa, ibadat dan penghayatan hidup sakramen sebagai ungkapan persatuan dengan Allah
Kemampuan menggumuli hidup sehari-hari sebagai perwujudan iman, pertemuan dengan Allah dan perayaan iman bersama seluruh umat Allah
Kehidupan menggereja, yang meliputi:
Penghayatan dan pengungkapan iman pribadi dalam kebersamaan dengan seluruh gereja
Kesadran akan ciri khas penggilan kristen yang diwarisi dari tri fungsi Kristus sendiri sebagai nabi, imam dan raja
Keterlibatan dalam berbagai bidang kehidupan dan pelaksanaan panca tugas Gereja, yakni koinonia (persekutuan), kerygma (pewartaan), liturgia (ibadat) dan martyria (kesaksian)4
Peran serta Kaum Muda dalam Kehidupan Menggereja
Sebagaimana anggota gereja secara umum, kaum muda juga diharapkan ikut ambil bagian dalam keberlangsungan pertumbuhan dan kehidupan gereja. Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus, kaum muda juga ikut berperan dalam tanggung jawab dan fungsi dalam gereja. Organisasi-organisasi kepemudaan dalam intern gereja maupun di luar gereja, sebagaimana terkait dengan keutuhan gereja merupakan aset penting bagi gereja sendiri. Maka, diharapkan juga bahwa masing-masing pribadi, sebagai bagian dari organisasi maupun anggota gereja, memiliki kesadaran dan keterbukaan untuk melibatkan diri dalam tanggung jawab tersebut. Di samping pendampingan dan pembinaan, kesadaran inilah yang terpenting sebab tanpa adanya kesadaran akan ketrlibatannya dalam gereja, pendampingan dan pembinaan tidak akan berjalan secara efektif.
Tanggung jawab kaum muda dalam kehidupan gereja menuntut peran serta kaum muda sendiri dalam aktivitas lingkungan kehidupan gereja. Tanpa peran serta aktif yang disertai dengan kesadaran yang tinggi akan keterlibatannya, gereja beserta kegiatan di dalamnya hanya merupakan sebuah pelarian bagi kaum muda, yang di dalam lingkup kehidupannya sedang mengalami kesulitan atau masalah pribadinya. Gereja bukan tempat pelarian tetapi gereja bisa menjadi tempat bernaung. Untuk itulah, agar gereja bukan hanya milik perseorangan atau kelompok-kelompok tertentu, keterlibatan kaum muda sangat penting dan memegang salah satu kendali. Gereja juga tidak bisa hidup tanpa kehadiran kaum muda, mengingat kaum muda, salah satu pembentuk pondasi gereja
Peranan kaum muda dalam gereja juga menyangkut perannya dalam masyarakat dan kehidupan sosialnya. Beberapa peran yang dilakukan oleh kaum muda, antara lain:
Menjadi saksi kehidupan yang dikaruniakan Tuhan kepada kita
Sebagai ujung tombak misi gereja, kesaksian hidup kaum muda ini sangat menentukan. Kaum muda, sebagai anggota gereja adalah terang, garam dan ragi bagi dunia. Dengan menjadi saksi bagi dunia, selain menjadi keselamatan dalam gereja kaum muda sekaligus menjadi jalan bagi keselamatan dunia. Keselamtan dalam dunia saat ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Partisipasi dalam pembentukan kultur baru
Pembentukan kultur baru ini merupakan partisipasi kaum muda dalam membentuk kultur yang demokratis, solider, terbuka, rendah hati dan peduli lingkungan, dengan menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan religiusitas yang memerdekakan. Namun hal ini masih belum tercapai karena pelbagai godaan dan tantangan kehidupan yang dialami kaum muda.
Menjadi penyambung lidah masyarakat
Selain memunculkan kultur baru yang memerdekakan dalam lingkup gereja dan masyarakat, kaum muda juga sekaligus menjadi penyambung lidah, artinya melalui aspirasi yang disampaikan oleh kaum muda terhadap gereja, perhatian gereja lebih ditarik untuk memperhatikan dan memberdayakan kehidupan dalam gereja, yang kemudian disampaikan kepada masyarakat.

Menjadi media komunikasi dalam gereja
Dengan kehadiran kaum muda di tengah-tengah komunitas gerejani semangat untuk membangun kesadaran dan solidaritas dalam menghadapi masalah menjadi semakin terbuka karena kehadiran kaum muda menyadarkan generasi sebelumnya untuk membagikan peran dalam keterlibatannya untuk membangun gereja.

Kesimpulan
Peran dan tanggung jawab kaum muda adalah langkah awal bagi pertumbuhan gereja. Kaum muda sebagai harapan sekaligus penerus masa depan gereja mempunyai tanggung jawab yang cukup menentukan. Walaupun demikian, tanggung jawab tersebut tidak dapat lepas dari pembentukan diri dan pendampingan maupun pembinaan bagi kaum muda. Pentingnya pembinaan bagi kaum muda dalam menanamkan tanggung jawab kristiani merupakan sebuah langkah untuk mendidik, mengarahkan, serta merangkul kaum muda sekaligus membangun gereja, di tengah-tengah masyarakat. Banyaknya kendala dan tantangan yang harus dihadapi bukanlah suatu kehancuran, melainkan juga sebuah langkah untuk memulai dan memajukan kehidupan dan perkembangannya.
Pembinaan kepribadian, penanaman nilai-nilai dan pengembangan hidup kristiani merupakan
1 Komisi Kepemudaan KWI, Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda, hal. 11.
2 ibid, hal. 12.
3 Charles M. Shelton, SJ, Moralitas Kaum Muda, Jogjakarta: Kanisius, hal. 11.
4 Komisi Kepemudaan KWI, Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda, hal. 13.

Rabu, 11 Juni 2008

MEMBANGUN "GEREJA" JAWA

By. Antonius Agus Sumaryono

I. Pendahuluan
Pengertian mengenai Gereja banyak orang mendeskripsikannya dengan bangunan gereja. Istilah Gereja berasal dari bahasa Yunani Ekklesia yang artinya adalah kumpulan. Gereja mempunyai hakikat teologis sebagai kumpulan umat beriman. Gereja secara implisit terdapat suatu struktur hierarkhi yang sangat rapi dengan dogma-dogma yang menjadi pengendali pengajaran.
Gereja adalah suatu refleksi teologis iman umat. Sebagai refleksi Gereja dapat diartikan dengan dua cara: pertama refleksinya yang kedua hasil refleksinya[1]. Gereja merupakan suatu refleksi dan hasil refleksi jemaat perdana terhadap imannya. Jadi Gereja adalah suatu persekutuan orang-orang percaya, Gereja sebagai suatu tubuh mistik dengan Yesus sebagai kepalanya.
Gereja sebagai suatu komunio berpandangan bahwa keutuhan dan kesatuan jemaat menjadi satu ciri Gereja. Gereja yang bagiamana yang sedang dibangun dewasa ini. Untuk menggali dan mengungkap suatu Gereja yang sedang dibangun dalam paper ini penulis ingin memberikan suatu pandangan bagaimana Gereja dibangun. Penulis mengangkat tema: Membangun “Gereja” Jawa yang pada intinya adalah bagaimana Gereja itu dibangun dari budaya jawa.

II. Pembahasan
2.1 Apa itu Kejawèn
[2]
Sebelum mengetahui Kejawen, kita seharusnya melihat dulu apa itu Kejawèn. Kejawèn berasal dari kata Jawa yang mendapat imbuhan kata ke- - an yang mempunyai arti sifat kejawaan.[3] Kejawèn sendiri oleh kebanyakan orang dianggap sebagai suatu agama asali dari orang Jawa. Padahal kejawèn merupakan suatu sinkretisme antara animisme dan agama Hindhu dan Buddha.[4] Ada juga pengaruh dari agama Islam dan Kristen terhadap kepercayaan kejawèn ini. Tetapi kejawèn sebagai kepercayaan dari orang Jawa bukanlah suatu agama yang terorganisir seperti halnya agama-agama yang lain.
Asal usul kejawèn, sebenarnya bermula dari dua tokoh misteri, yaitu Sri dan Sadono.[5] Dari cerita tersebut dapat digambarkan bahwa memang sejak semula masyarakat kejawèn sudah banyak berkenalan dengan budaya mistik. Ajaran kuno yang diwarisi secara turun-temurun menjadi suatu pedoman yang dikaitkan dengan falsafah hidup berdasarkan aksara Jawa sebagai berikut:[6]
ancrk
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada " utusan " yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).
ftswl
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya (dipanggil) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia (dengan segala atributnya) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan
pdjyv
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksdunya padha " sama " atau sesuai, jumbuh, cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu " menang, unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif
mgbqz
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Aksara Jawa yang sampai sekarang masih ada beberapa orang yang masih menguasainya mempunyai nilai yang lebih mendalam. Aksara Jawa sangat identik dengan kejawèn, karena mereka masih menggunakan aksara Jawa dalam buku-buku panduannya. Mereka juga kalau sedang melakukan suatu upacara ritual masih menggunakan bahasa Jawa.
Sebenarnya inti dari ajaran kejawèn suatu ajaran kesempurnaan.[7] Kejawèn adalah suatu ajaran kepercayaan yang diyakini dan dianut oleh sebagian orang Jawa. Beberapa paguyuban yang sampai saat ini masih eksis antara lain Budi Setia, Kawruh Kasunyatan, Ilmu Sejati, Kawruh Begja yang kesemuanya itu berpusat di Mojokuto (Pare).[8] Paguyuban-paguyuban tersebut adalah suatu aliran kebatinan atau mistik kejawèn.

2.2 Budaya Kejawèn
Budaya kejawèn merupakan suatu tradisi atau kegiatan ritual yang dilakukan oleh orang Jawa yang menganut ajaran kejawèn. Kegiatan-kegiatan ritual ini masih seringkali dilakukan oleh kebanyakan orang Jawa yakni dengan Slametan. Budaya-budaya tersebut mempunyai nilai religiusitas yang diyakini oleh para penganutnya. Adapun tindakan spiritualitas adalah dengan perilaku spiritual yakni acara-acara ritual.
Para penganutnya juga mempunyai kepercayaan kepada adanya Roh, Wangsit, dan Hal-hal Gaib. Mistik kejawèn mempunyai dinding yang tipis antara ilmu dan ngelmu[9] karena keduanya pada dasarnya adalah suatu tindakan untuk memperoleh ilmu. Cara memperoleh ilmu antara keduanya melalui cara atau jalan yang berbeda, kalau ilmu melalui olah otak yang berdasarkan pada pembuktian ilmiah. Sedangkan ngelmu merupakan suatu konsep pemikiran orang Jawa yang didalamnya mengandung unsur-unsur yang rasional dan irrasional.
Dalam mistik kejawèn terdapat suatu falsafah hidup Jawa. Falsafah hidup Jawa menurut Zoetmulder amat berbeda dengan taraf berpikir dari orang barat. Budaya berpikir orang Jawa masih dipengaruhi oleh lingkungannya. Cara berpikir orang Jawa ini adalah suatu falsafah hidup yang tujuannya mencari kesempurnaan hidup Sangkan Paraning Dumadi dan Manunggaling Kawulo Gusti.
Kata-kata tersebut merupakan kata kunci dari ajaran kejawèn. Hidup manusia diarahkan kepada Sangkan Paraning Dumadi artinya manusia berasal dari dan bertujuan kepada yang membuat wujud. Sedangkan Manunggaling Kawulo Gusti adalah suatu sikap atau usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Pernyataan tersebut memberikan suatu deskripsi bagaimana falsafah Jawa merupakan suatu ajaran yang menciptakan ketenangan batin. Jadi, intinya adalah budaya kejawèn merupakan budaya dalam memaknai arti dari hidup manusia yakni mencapai tingkat spiritual.

2.3 Pandangan Gereja terhadap budaya lokal (Kejawèn)
Gereja setelah Konsili vatikan II telah mulai terbuka terhadap kebudayaan-kebudayaan setempat. Bahkan, Gereja juga mulai memasukkan budaya lokal dalam suatu upacara liturgis. Dengan cara seperti ini, Gereja sebenarnya ingin mengangkat budaya lokal dan mencari aspek-aspek spiritualitas yang diyakini oleh masyarakat setempat.
Gereja memandang bahwa kebudayaan lokal sebagai suatu kekayaan yang harus dipertahankan. Kebudayaan lokal juga memiliki unsur-unsur dan nilai-nilai religius yang perlu untuk digali secara lebih mendalam. Nilai religius yang terdapat dalam budaya dapat membantu untuk menumbuhkan nilai dan semangat religius umat dengan menggali nilai budaya lokal.
Dengan cara seperti ini, Gereja menggali unsur spiritual dari umat dengan masuk ke dalam nilai religius yang diyakini oleh umat setempat. Ini yang dinamakan Gereja bertumbuh dari bawah karena menumbuhkan aspek religiusitas umat dari menggali budaya sendiri. Umat akan merasa lebih mengena dalam pendalaman iman karena Gereja juga mengambil peranan dalam membangun suatu Gereja yang lahir dari budaya jawa.
Pandangan Gereja sangat menghargai tradisi atau budaya lokal yang muncul dari setiap daerah dalam hal ini khususnya budaya kejawèn. Pandangan positif Gereja ini diwujudkan dalam bagaimana Gereja melakukan pewartaan keselamatan.

2.3 Kejawèn dan harmoni
Kejawèn pada inti ajarannya adalah suatu ajaran yang mementingkan suatu unsur keharmonisan. Artinya, pengajaran-pengajarannya dipengaruhi oleh relasi baik dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, bahkan dengan benda-benda. Dalam kejawèn, relasi timbal balik merupakan wujud adanya satu kesatuan.
Kejawèn merupakan suatu ajaran yang mementingkan suatu unsur nilai harmonisme. Artinya, manusia hidup selaras dengan keharmonian dari lingkungan hidupnya. Keselarasan hidup manusia diungkapkan dalam karya-karya sastra yang memberikan makna hidup yang mensimbolkan nilai harmoni salah satunya dalam karya sastra dhandhanggula sebagai berikut:[10]
Urip iku neng donya tan lami
Upamane jebeng menyang pasar
Tan langgeng neng pasar bae
Tan wurung nuli mantuk
Mri wismane sangkane nguni
Ing mengko aja samar, sangkan paranipun
Ing mengko padha weruha
Yen asale sangkan paran duk ing nguni
Aja nganti kesasar
Dari karya sastra gending-gending Jawa, kita dapat melihat bagaimana nilai keharmonisan hidup menjadi unsur penting dalam kejawèn. Di sini, kita juga dapat menangkap makna harmonis sebagai suatu nilai luhur yang memberi nuansa manunggal dengan semesta. Kemanunggalan manusia dengan alam (makrokosmos) seisinya menunjukkan unsur-unsur yang sama dengan diri manusia sebagai (mikrokosmos).[11]
Adapun mistik kejawèn merupakan suatu budaya yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Artinya bahwa mistik kejawèn memiliki unsur-unsur religi antara manusia dengan Sang Mahakuasa dan manusia dengan alam semesta.[12] Kejawèn sangat menitik beratkan adanya suatu keharmonisan secara universal.

2.4 Nilai kearifan lokal dalam Kejawèn
Kebudayaan lokal kalau digali secara lebih mendalam lagi maka akan menemukan suatu nilai-nilai kearifan yang menjadi inti pengajarannya. Tujuan hidup dari masyarakat Jawa pada umumnya adalah mencapai kebahagiaan hidup lahir dan batin. Yang mana kebahagiaan hidup dicapai dengan cara menyadarkan kepada hakekat hidup manusia. Hakekat hidup manusia itu digali dari nilai-nilai luhur dari kebudayaan lokal.
Nilai kearifan kejawèn yang bertumbuh dari nilai luhur kebudayaan lokal mempunyai makna yang lebih mendalam terhadap orang Jawa. Nilai kearifan lokal dalam kejawèn yang mengalir dalam darah orang Jawa diangkat untuk membangun suatu komunio. Dalam kaitannya dengan ini, nilai kearifan lokal dalam kejawèn diharapkan dapat mengangkat kepada tingkat kehidupan yang manusiawi.
Nilai kebudayaan kejawèn yang mementingkan adanya harmoni menjadi satu keyakinan yang disadari bahwa manusia mempunyai keterjalinan dengan unsur-unsur semesta.[13] Oleh karena itu tundakan manusia adalah untuk mencapai suatu keutuhan dan kehidupan bersama. Suatu kehidupan komunio telah ditunjukkan dari penggalian kebudayaan lokal kejawèn.

2.5 Membangun Gereja yang membumi
Membangun suatu Gereja dengan “komponen lokal”[14] memang ada pentingnya. Hal ini sebenarnya untuk mengangkat nilai budaya masyarakat lokal dalam membangun suatu bangunan iman. Gereja yang terbangun atas dasar nilai-nilai luhur yang ada dalam budaya dan tradisi masyarakat setempat akan membawa kepada suatu penghayatan yang tersendiri dibandingkan dengan memaksakan untuk diikuti.
Dengan menggali nilai kearifan lokal dan mengangkatnya dalam membangun suatu bangunan iman yang berasal dari dalam dimaksudkan untuk lebih dihayati. Model membangun Gereja yang seperti ini yang seharusnya mulai dikembangkan dalam metode evagelisasi modern. Gereja yang Jawa ini sebenarnya merupakan suatu kekayaan iman yang masih asli, oleh karena itu Gereja seharusnya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal ini.
Orang Jawa akan lebih mudah dan mengenal sosok pewayangan Kresna dibandingkan dengan Yesus. Dalam hal ini, Gereja menggali nilai luhur apa yang dimiliki oleh sosok Kresna dan mencoba untuk mengkaitkannya dengan sosok Yesus. Dalam masyarakat Jawa, sosok Kresna adalah sebagai figur seorang pemimpin yang bijaksana dan maha sakti.[15] Nama Kresna sudah tidak asing lagi bagi orang Jawa bahkan orang Jawa mengagungkan tokoh Kresna sebagai public figur. Bagaimana hal ini oleh Gereja dijadikan satu model pewartaan Yesus dengan menggali dan memberikan suatu pemahaman dalam nilai kebudayaan lokal.
Banyak harapan bahwa Gereja itu dibangun dengan menggali nilai-nilai adhi luhung kejawèn. Sangat penting bahwa Gereja itu dibangun dari Jawa, bukan Gereja di Jawa, sehingga umat beriman sesuai dengan kepercayaan yang lebih mendalam. Akan berbeda apabila Gereja itu dibawa oleh misionaris dengan memperkenalkan tradisi-tradisi Eropa yang asing bagi umat setempat. Suatu nilai plus bahwasanya apabila Gereja itu benar-benar tumbuh dari akar tradisi lokal, karena akan lebih mudah untuk memasukkan ajaran-ajaran pewartaan.
Sudah sepatutnya bahwa, gereja yang ada di Jawa ini dibangun atas kerangka budaya Jawa. Hal ini untuk menggali nilai-nilai spiritualitas yang didasarkan pada akar budaya dan tradisi sendiri. Hal tersebut perlu untuk disadari oleh Gereja dewasa ini bahwasanya penggalian kebudayaan lokal dapat membawa pemahaman pada iman. Orang akan lebih mudah dan cepat untuk menerima pewartaan yang dapat mengangkat nilai-nilai luhur kebudayaan mereka. Dengan demikian kita dapat menciptakan suatu Gereja yang membumi. Artinya, Gereja dibangun dalam konsep keyakinan lokal.

III. Relevansi
Dalam pewartaan dan pengembangan Gereja dewasa ini penggalian-nilai-nilai luhur kebudayaan memang pantas untuk terus digali. Pemahaman nilai kebudayaan lokal memberikan suatu pewartaan yang lebih berkesan terhadap umat. Gereja yang mulai berani untuk memasukkan nilai-nilai luhur dari kebudayaan lokal membawa suatu pemahaman yang mendalam.
Pewartaan lebih mudah dapat diterima dengan memasukkan metode interkulturasi antara nilai kebudayaan Jawa dengan ajaran iman Kristiani. Sangat mungkin bagi Gereja untuk berani masuk dalam kebudayaan lokal. Tetapi tentu saja semua itu harus dipilih-pilih apakah kebudayaan lokal benar-benar mempunyai suatu nilai religius dalam keyakinan pemilik budaya, sehingga dapat dipilah-pilah mana yang mungkin dapat dipakai dan yang tidak.
Hal ini akan membawa suatu pengaruh yang besar terhadap perkembangan iman yang digali dari nilai-nilai kebudayaan lokal. Orang akan lebih cepat memahami pewartaan Kerajaan Allah Yesus dengan lebih mudah apabila dikaitkan dengan kebudayaan lokal yang mempunyai pandangan akan religiusitas. Umat akan memberikan suatu tanggapan yang positif dari pewartaan Gereja yang menghargai nilai kebudayaan lokal.



DAFTAR PUSTAKA


Astiyanto, Heniy, SH., Filsafat Jawa, Yogyakarta: Warta Pustaka, 2006.
Endraswara, Suwardi, Mistik Kejawen, Yogyakarta: Narasi, 2003.
Geertz, Clifford, “The Religion of Java” Phoenix Edition, Chicago : University of Chicago Press, 1976.
------------------, Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya, 1989.
Suseno, Fran Magnis, Etika Jawa, Jakarta: Gramedia, 1984.
Zoetmulder, P.J., “Manunggaling Kawulo Gusti” Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa, Jakarta: Gramedia, 1990.

Sumber lain

[1] http://www.oaseonline.org/artikel/johncampbellnelson/identitas.htm as retrieved on 11 Apr 2008 19:47:20 GMT.
[2] Kejawèn (Ýkjwen\ ) merupakan suatu keyakinan atau suatu etika atau gaya hidup. Sedangkan menurut seorang ahli antropologi Clifford Geertz dalam bukunya “The Religion of Java” kejawen disebut “Agami Jawi”, Phoenix Edition, Chicago : University of Chicago Press pp.188–191, 1976.
[3] http://www.kaskus.us/archive/index.php/t-638288-p-4.html as retrieved on 3 May 2008 04:46:55 GMT.
[4] Ibid.
[5] Tokoh Sri sebenarnya penjelmaan dari Dewi Laksmi, istri Wisnu dan Sadono adalah penjelmaan Wisnu sendiri. Suwardi Endraswara, Mistik Kejawèn, Yogjakarta: Narasi, hlm. 1.
[6] http://javanology.blogspot.com/ as retrieved on 6 May 2008 20:16:58 GMT. (diakses tgl. 18 Mei 2008).
[7] Bdk. Suwardi Endraswara, Op. Cit., hlm. 16.
[8] Clifford Geertz, Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya, hlm. 453-471.
[9] Bdk. Ngelmu tidak bias disamakan begitu saja dengan ilmu, karena ngelmu mengandung suatu arti “ajaran rahasia (esoteris)” yakni suatu pegangan hidup. Ngelmu dicapai dengan cara laku batin atau jalan spiritual, http://www.blogger.com/feeds/733718336778863861/posts/default as retrieved on 9 Nov 2007 14:44:57 GMT. (diakses tanggal 18 Mei 2008).
[10] Suwardi Endraswara, Op. Cit., Hlm. 34.
[11] Bdk. Heniy Astiyanto, SH, Filsafat Jawa, Yogyakarya: Warta Pustaka, 2006, hlm. 338.
[12] Bdk. Suwardi Endraswara, Op. Cit., Hlm. 29.
[13] Bdk. Suwardi Endraswara, Op. Cit., Hlm. 227.
[14] Yang dimaksud dengan komponen lokal ini adalah suatu usaha untuk menggali nilai-nilai spiritual yang diimani oleh masyarakat setempat.
[15] Bdk. http://www.tembi.org/wayang/krisna6.htm as retrieved on 1 Apr 2008 07:45:30 GMT. (diakses tanggal 18 Mei 2008).